Detail Cantuman

Image of Peran Deksmedetomidin Sebagai Protektor Otak Yang Dinilai Dengan Kadar Kortisol, IL-6 Dan COX-2 Pada Tikus Model Cedera Otak Traumatika

 

Peran Deksmedetomidin Sebagai Protektor Otak Yang Dinilai Dengan Kadar Kortisol, IL-6 Dan COX-2 Pada Tikus Model Cedera Otak Traumatika


ABSTRAK
Proteksi otak penting dalam penanganan cedera kepala agar tidak terjadi cedera sekunder. Metode proteksi otak terdiri dari metode ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001100100085617.481 Har p/R.13.89Perpustakaan Pusat (REF.13.89)Tersedia namun tidak untuk dipinjamkan - No Loan
  • Perpustakaan
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    617.481 Har p/R.13.89
    Penerbit Program Pasca Sarjana : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xxiii,;143 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    617.481
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • ABSTRAK
    Proteksi otak penting dalam penanganan cedera kepala agar tidak terjadi cedera sekunder. Metode proteksi otak terdiri dari metode dasar dan farmakologik dengan menggunakan obar-obatan. Sampai mat ini belum ada hasil proteksi otak yang konsisten dari berbagai metode famiakologi, sehingga masih menjadi bahan kajian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran deksmedetomidin sebagai protektor otak yang dinilai dengan kadar IL-6, kortisol dan COX-2.
    Penelitian eksperimental di laboratorium dengan rancangan acak lengkap dilakukan pada 24 tikes wistar jantan, usia sekitar 3 bulan yang mendapat perlakuan cedera kepala buatan derajat sedang. Setelah mendapat persetujuan komite etik, hewan coba dibagi dalam 3 kelompok secara random yaitu kelompok K1 (NaC1) (n=8), kelompok P (deksmedetomidin) (n-8) dan kelompok K2 (kontrol) (n=8), kemudian dilakukan anestesi dengan Ketamin 80 mg/kgBB ip dan diambil sampel darah, selanjutnya kelompok K1 dan kelompok P dilakukan kraniektomi dan diberi trauma diikuti dengan pemberian deksmedetomidin 60 ptgr/kgBB ip untuk kelompok P dan NaC1 dengan volume dan cara sama untuk kelompok K1. Kelompok K2 tidak dilakukan cedera dan tidak mendapat terapi apapun. Pemberian deksmedetomidin atau NaC1 diulang pada jam ke-3, ke-12 dan ke-24, pengambilan sampel darah berikutnya untuk pemeriksaan dengan metode ELISA dilakukan pada jam ke-12 dan jam ke-24. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan uji ANOVA dan Friedman serta uji korelasi Spearman.
    Hasil analisis data menunjukkan kadar kortisol pada kelompok K1 meningkat tidak bermakna pada 12 jam pasca trauma dibanding kelompok P. Kadar IL-6 pada kelompok K1 meningkat seeara bermakna dibanding kelompok P, pada 12 jam dan 24 jam pasca trauma. (160+15,57) vs (140,5+17,65) dan (172,6+19,07) vs (124,2+23,6), Kadar COX-2 pada kelompok K1 meningkat secara bermakna dibanding kelompok P pada 12 jam dan 24 jam pasca trauma. (1491,41+341) vs (803,62+215,73) dan (1048,45+170,43) vs (588,93+198,57) Kadar kortisol selain menggambarkan aktivitas aksis HHA juga dapat berubah sesuai siklus sirkardian, sedangkan kadar COX-2 menunjukkan proses inflamasi yang terjadi. Analisis Spearman menunjukkan adanya korelasi positif antara IL-6 dan kortisol (p=0,83), IL-6 dan COX-2 (p=0,71), COX-2 dan kortisol (p-0,71) yang terjadi pada 12 jam pasca trauma pada kelompok yang mendapat NaC1.
    Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa deksmedetomidin mempunyai peran sebagai protektor otak dengan menurunkan kadar IL-6, kortisol dan COX-2. Ada korelasi positif pada perubahan kadar antara kortisol, IL-6 dan COX-2 setelah trauma.
    Kata kunci: proteksi otak, deksmedetomidin, IL-6, kortisol, COX-2.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


Informasi